Buku adalah sebuah jendela dunia. Buku adalah teman yang baik dan guru yang tak pernah
marah. Dan banyak lagi kalimat yang prinsipnya memuliakan eksistensi buku. Itu sebabnya,
bagi orang yang mencintainya, buku selalu ada di sekitar mereka dan punya tempat istimewa.
Ruang perpustakaan, tak bisa tidak, kini makin menjadi bagian vital dari rumah-rumah milik
golongan terpelajar.
Erwien Soetrisno contohnya. Pengusaha yang mukim di Bali ini, meski hanya berpendidikan
SMA, di rumahnya ribuan buku dapat dijumpai. "Book is the window of the world, toh
Mas," ujar pengusaha yang merangkak dari bawah ini. Biografi adalah jenis buku yang
paling mendominasi koleksinya. Jenis lain adalah ekonomi, wisata, sastra, senirupa dan
novel serta majalah dari dalam maupun luar negeri. Di perpustakaan pribadi berukuran 4x6
meter itu pula, masih ditemukan satu set buku yang terdiri sepuluh jilid, buku koleksi
lukisan Bung Karno. "Ini buku antik, hadiah dari mertua!" tutur Erwien bangga.
Di perpustakaan ber-AC yang dilengkapi laser disc dan video ini, setiap pagi dan
menjelang tidur menjadi sarang yang dianggapnya paling nyaman. Namun begitu, ruangan yang
satu ini tak tertutup bagi orang lain, terutama anak dan istrinya. "Hampir sebulan
sekali, bersama anak-anak saya membersihkan buku-buku," tuturnya. Tak jarang, ruang
perpustakaan tersebut juga menjadi ajang diskusi buku, antara lain dengan karyawannya.
Wajar jika anggaran untuk buku menjadi tak terbatas, sangat tergantung dari pasar buku.
Apalagi bersama istri ia punya hobi traveling, sehingga setiap pulang dari luar negeri
selalu bertambah tumpukan bukunya.
Penggemar novel Agatha Christie yang secara pribadi pernah menjamu Steven Seagal, Don
Johnson, Whitney Houston, Bobby Brown, dan Silvester Stallone ini menganggap, perpustakaan
pribadi adalah sarana untuk aktualisasi diri. "Sebagai kaca benggala atau cermin,
untuk mengukur identitas diri," jawabnya ketika ditanya tentang manfaat yang
dirasakannya berteman dengan buku. Yang menarik, buku-buku ensiklopedi tak ditemukan di
perpustakaannya, "Aduh, aku belum butuh buku itu. Kalau aku beli juga, buat apa kalau
hanya sekadar pajangan?" kata Erwien riang, tanpa bermaksud menyindir banyak OKB
(orang kaya baru) yang dengan penuh antusias memajang sederetan ensiklopedi --yang
biasanya, sungguh, belum pernah dibuka itu-- di ruang tamu.
Pemilik perpustakaan pribadi lain yang sempat ditemui TIARA adalah Ferry W Atmadi,
konsultan manajemen dan akuntan publik di Jakarta. Sesuai dengan bidang kerjanya,
perpustakaan pribadi Ferry yang berukuran 7x4 merter itu didominasi oleh buku-buku
manajemen dan akuntansi. "Kian hari kian terasa sempit karena setiap bulan selalu
bertambah jumlahnya dengan buku-buku baru," kata Ferry yang buru-buru menambahkan,
bahwa ia tetap memelihara koleksi buku lama yang sudah terbilang antik, antara lain dengan
menempatkan AC dan menjauhkan ruang perpustakaan dari air dan udara lembab.
Perpustakaan pribadi Ferry menjadi kawasan yang akrab bagi seluruh keluarganya,
terutama bagi anak-anak yang sebetulnya juga punya ruang belajar sendiri. Istri dan
anak-anak itu pula yang seminggu sekali diajaknya merawat buku. Ferry sendiri setiap saat
selalu memanfaatkan waktu untuk membaca. Bangun pagi dan sepulang kantor ia selalu
membenamkan diri di perpustakaan yang letaknya tak berjauhan dengan kamar tidur. Begitu
juga selama di dalam mobil, daripada pusing melihat kemacetan, ia memilih baca buku.
Begitupun saat libur. Maka sebagian buku-bukunya terdapat pula di ruang tidur atau
tertumpuk di jok mobil.
Secara rutin, Ferry juga memperoleh informasi katalog dari penerbit, sebut saja
misalnya dari McGraw Hill, Prentice Hall, termasuk katalog penerbit lokal Gramedia. Lebih
dari itu, mengunjungi toko buku bersama keluarga adalah salah satu acara yang disukainya.
Tak aneh jika setiap bulan Ferry mengeluarkan dana jutaan rupiah untuk belanja buku. Harap
maklum, sebagai konsultan, ia merasa hidupnya sangat tergantung dari perpustakaan
pribadinya itu. Sebab dari ruang itulah ia memperoleh segudang ide dan inspirasi yang
kelak akan disampaikan kepada para pengguna jasanya.
Jika beda minat.
Yang tak kalah menarik adalah perpustakaan pribadi milik pasangan Karlina Leksono yang
ahli astronomi dan Ninok Leksono yang wartawan. Pasangan ini, karena masing-masing begitu
tergantungnya pada perpustakaan sementara disiplin ilmu dan minat mereka berbeda, terpaksa
mengambil keputusan punya perpustakaan sendiri-sendiri. "Mula-mula sih jadi
satu," kata Karlina yang belakangan aktif membela kepentingan kaum perempuan dan
anak-anak ini.
Berapa jumlah buku mereka berdua? Lina sulit menyebutnya. Yang jelas perpustakaan
Karlina berisi buku-buku filsafat, astronomi, sastra dan novel; sementara perpustakaan
suaminya lebih banyak berisi buku-buku politik, teknologi, pertahanan dan buku-buku ilmu
sosial lainnya. "Perpustakaan Ninok agak berantakan, maklum dia sangat sibuk. Lagi
pula buku yang di sini hanya sebagian saja, karena sebagian lagi bertumpuk banyak di
kantornya," tutur Karlina yang juga menulis buku tentang kosmologi ditinjau dari
sudut filsafat itu.
Ruangan 4x6 meter itu terasa nyaman bagi Karlina. Selain ber-AC, letaknya berdampingan
dengan kamar tidur. "Karena secara psikologis, saya akan merasa aman bila bekerja
sampai larut malam, karena suami ada di dekat saya meskipun tidur," tuturnya sambil
tertawa manja. Memang, perpustakaan bagi Karlina merupakan bagian tak terpisahkan dari
hidupnya. Hampir 80 persen waktunya dihabiskan di ruangan ini, yang sekaligus menjadi
ruang kerjanya. Berangkat dari ruang ini ia mengajar, membuat desertasi, melakukan
berbagai perenungan dan melakukan pekerjaan-pekerjaan ilmiah lainnya.
Sempat ia membuat katalog, namun setelah jumlah bukunya semakin membengkak dan waktunya
kian tak tersisa lagi, akhirnya metoda ini ditinggalkan. Untuk lebih memudahkan pencarian,
Karlina memilih memisahkan buku-buku lama yang dianggap sudah mulai kecil volume
penggunaannya ke dalam rak-rak yang tertutup. Sedang untuk buku-buku yang padat
penggunaannya, ia biarkan rapi berjajar di rak-rak terbuka. "Yang penting asal jangan
lembab," komentarnya. Apalagi di ruang itu juga terdapat kliping dan bermacam majalah
dalam dan luar negeri. Karlina pun merasa perlu bantuan asisten untuk menyampul dan
merawatnya.
Salah satu hal yang sangat dinikmati Karlina setiap ke luar negeri adalah belanja buku.
"Soalnya buku-buku luar, kalau sudah masuk ke Indonesia harganya menjadi sangat
mahal," keluhnya. Setiap bulannya, kadang ia hanya membeli sekitar lima buku. Tapi
pada saat yang lain bisa saja ia tiba-tiba membawa dua kardus, sehingga ruangan makin tak
cukup. Itu sebabnya, ia berencana merenovasi rumah agar bisa lebih leluasa meletakkan buku
dan nyaman bekerja.
Jangan percaya orang lain.
Yang lebih beruntung barangkali adalah Myra Sidharta. Psikolog yang kini lebih menekuni
sinologi ini perpustakaan pribadinya boleh dibilang fantastis. Bukan sekadar jumlahnya
yang terlampau banyak untuk ukuran perpustakaan pribadi, juga banyak di antara koleksi
bukunya tergolong antik. Buku-buku sejarah, kebudayaan, psikologi, sastra, mulai dari
terbitan 1900-an sampai paling mutakhir tertata rapi di rak yang memenuhi seluruh lantai
bawah (tepatnya di bawah permukaan tanah) rumahnya yang luas. Bahkan lantai atas yang
menjadi tempat tinggalnya pun sudah mulai dikikis oleh rak-rak buku. Harap maklum, jumlah
buku yang khusus membahas tentang Cina perantauan saja, ada sekitar 900-an buah.