Intel


Perpustakaan Pribadi
Tiara Edisi : Bulan Agustus 1999
 

MENEMUI TAMU DAN BERKUMPUL DENGAN KELUARGA DI RUANG PERPUSTAKAAN? MENGAPA TIDAK? BAGI KALANGAN TERPELAJAR, PERPUSTAKAAN PRIBADI JADI BAGIAN YANG AKRAB. BUKU APA SAJA YANG BIASANYA DIKOLEKSI? MENGAPA ENSIKLOPEDI JUSTRU DIHINDARI?

Buku adalah sebuah jendela dunia. Buku adalah teman yang baik dan guru yang tak pernah marah. Dan banyak lagi kalimat yang prinsipnya memuliakan eksistensi buku. Itu sebabnya, bagi orang yang mencintainya, buku selalu ada di sekitar mereka dan punya tempat istimewa. Ruang perpustakaan, tak bisa tidak, kini makin menjadi bagian vital dari rumah-rumah milik golongan terpelajar.

Erwien Soetrisno contohnya. Pengusaha yang mukim di Bali ini, meski hanya berpendidikan SMA, di rumahnya ribuan buku dapat dijumpai. "Book is the window of the world, toh Mas," ujar pengusaha yang merangkak dari bawah ini. Biografi adalah jenis buku yang paling mendominasi koleksinya. Jenis lain adalah ekonomi, wisata, sastra, senirupa dan novel serta majalah dari dalam maupun luar negeri. Di perpustakaan pribadi berukuran 4x6 meter itu pula, masih ditemukan satu set buku yang terdiri sepuluh jilid, buku koleksi lukisan Bung Karno. "Ini buku antik, hadiah dari mertua!" tutur Erwien bangga.

Di perpustakaan ber-AC yang dilengkapi laser disc dan video ini, setiap pagi dan menjelang tidur menjadi sarang yang dianggapnya paling nyaman. Namun begitu, ruangan yang satu ini tak tertutup bagi orang lain, terutama anak dan istrinya. "Hampir sebulan sekali, bersama anak-anak saya membersihkan buku-buku," tuturnya. Tak jarang, ruang perpustakaan tersebut juga menjadi ajang diskusi buku, antara lain dengan karyawannya. Wajar jika anggaran untuk buku menjadi tak terbatas, sangat tergantung dari pasar buku. Apalagi bersama istri ia punya hobi traveling, sehingga setiap pulang dari luar negeri selalu bertambah tumpukan bukunya.

Penggemar novel Agatha Christie yang secara pribadi pernah menjamu Steven Seagal, Don Johnson, Whitney Houston, Bobby Brown, dan Silvester Stallone ini menganggap, perpustakaan pribadi adalah sarana untuk aktualisasi diri. "Sebagai kaca benggala atau cermin, untuk mengukur identitas diri," jawabnya ketika ditanya tentang manfaat yang dirasakannya berteman dengan buku. Yang menarik, buku-buku ensiklopedi tak ditemukan di perpustakaannya, "Aduh, aku belum butuh buku itu. Kalau aku beli juga, buat apa kalau hanya sekadar pajangan?" kata Erwien riang, tanpa bermaksud menyindir banyak OKB (orang kaya baru) yang dengan penuh antusias memajang sederetan ensiklopedi --yang biasanya, sungguh, belum pernah dibuka itu-- di ruang tamu.

Pemilik perpustakaan pribadi lain yang sempat ditemui TIARA adalah Ferry W Atmadi, konsultan manajemen dan akuntan publik di Jakarta. Sesuai dengan bidang kerjanya, perpustakaan pribadi Ferry yang berukuran 7x4 merter itu didominasi oleh buku-buku manajemen dan akuntansi. "Kian hari kian terasa sempit karena setiap bulan selalu bertambah jumlahnya dengan buku-buku baru," kata Ferry yang buru-buru menambahkan, bahwa ia tetap memelihara koleksi buku lama yang sudah terbilang antik, antara lain dengan menempatkan AC dan menjauhkan ruang perpustakaan dari air dan udara lembab.

Perpustakaan pribadi Ferry menjadi kawasan yang akrab bagi seluruh keluarganya, terutama bagi anak-anak yang sebetulnya juga punya ruang belajar sendiri. Istri dan anak-anak itu pula yang seminggu sekali diajaknya merawat buku. Ferry sendiri setiap saat selalu memanfaatkan waktu untuk membaca. Bangun pagi dan sepulang kantor ia selalu membenamkan diri di perpustakaan yang letaknya tak berjauhan dengan kamar tidur. Begitu juga selama di dalam mobil, daripada pusing melihat kemacetan, ia memilih baca buku. Begitupun saat libur. Maka sebagian buku-bukunya terdapat pula di ruang tidur atau tertumpuk di jok mobil.

Secara rutin, Ferry juga memperoleh informasi katalog dari penerbit, sebut saja misalnya dari McGraw Hill, Prentice Hall, termasuk katalog penerbit lokal Gramedia. Lebih dari itu, mengunjungi toko buku bersama keluarga adalah salah satu acara yang disukainya. Tak aneh jika setiap bulan Ferry mengeluarkan dana jutaan rupiah untuk belanja buku. Harap maklum, sebagai konsultan, ia merasa hidupnya sangat tergantung dari perpustakaan pribadinya itu. Sebab dari ruang itulah ia memperoleh segudang ide dan inspirasi yang kelak akan disampaikan kepada para pengguna jasanya.

Jika beda minat.
Yang tak kalah menarik adalah perpustakaan pribadi milik pasangan Karlina Leksono yang ahli astronomi dan Ninok Leksono yang wartawan. Pasangan ini, karena masing-masing begitu tergantungnya pada perpustakaan sementara disiplin ilmu dan minat mereka berbeda, terpaksa mengambil keputusan punya perpustakaan sendiri-sendiri. "Mula-mula sih jadi satu," kata Karlina yang belakangan aktif membela kepentingan kaum perempuan dan anak-anak ini.

Berapa jumlah buku mereka berdua? Lina sulit menyebutnya. Yang jelas perpustakaan Karlina berisi buku-buku filsafat, astronomi, sastra dan novel; sementara perpustakaan suaminya lebih banyak berisi buku-buku politik, teknologi, pertahanan dan buku-buku ilmu sosial lainnya. "Perpustakaan Ninok agak berantakan, maklum dia sangat sibuk. Lagi pula buku yang di sini hanya sebagian saja, karena sebagian lagi bertumpuk banyak di kantornya," tutur Karlina yang juga menulis buku tentang kosmologi ditinjau dari sudut filsafat itu.

Ruangan 4x6 meter itu terasa nyaman bagi Karlina. Selain ber-AC, letaknya berdampingan dengan kamar tidur. "Karena secara psikologis, saya akan merasa aman bila bekerja sampai larut malam, karena suami ada di dekat saya meskipun tidur," tuturnya sambil tertawa manja. Memang, perpustakaan bagi Karlina merupakan bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Hampir 80 persen waktunya dihabiskan di ruangan ini, yang sekaligus menjadi ruang kerjanya. Berangkat dari ruang ini ia mengajar, membuat desertasi, melakukan berbagai perenungan dan melakukan pekerjaan-pekerjaan ilmiah lainnya.

Sempat ia membuat katalog, namun setelah jumlah bukunya semakin membengkak dan waktunya kian tak tersisa lagi, akhirnya metoda ini ditinggalkan. Untuk lebih memudahkan pencarian, Karlina memilih memisahkan buku-buku lama yang dianggap sudah mulai kecil volume penggunaannya ke dalam rak-rak yang tertutup. Sedang untuk buku-buku yang padat penggunaannya, ia biarkan rapi berjajar di rak-rak terbuka. "Yang penting asal jangan lembab," komentarnya. Apalagi di ruang itu juga terdapat kliping dan bermacam majalah dalam dan luar negeri. Karlina pun merasa perlu bantuan asisten untuk menyampul dan merawatnya.

Salah satu hal yang sangat dinikmati Karlina setiap ke luar negeri adalah belanja buku. "Soalnya buku-buku luar, kalau sudah masuk ke Indonesia harganya menjadi sangat mahal," keluhnya. Setiap bulannya, kadang ia hanya membeli sekitar lima buku. Tapi pada saat yang lain bisa saja ia tiba-tiba membawa dua kardus, sehingga ruangan makin tak cukup. Itu sebabnya, ia berencana merenovasi rumah agar bisa lebih leluasa meletakkan buku dan nyaman bekerja.

Jangan percaya orang lain.
Yang lebih beruntung barangkali adalah Myra Sidharta. Psikolog yang kini lebih menekuni sinologi ini perpustakaan pribadinya boleh dibilang fantastis. Bukan sekadar jumlahnya yang terlampau banyak untuk ukuran perpustakaan pribadi, juga banyak di antara koleksi bukunya tergolong antik. Buku-buku sejarah, kebudayaan, psikologi, sastra, mulai dari terbitan 1900-an sampai paling mutakhir tertata rapi di rak yang memenuhi seluruh lantai bawah (tepatnya di bawah permukaan tanah) rumahnya yang luas. Bahkan lantai atas yang menjadi tempat tinggalnya pun sudah mulai dikikis oleh rak-rak buku. Harap maklum, jumlah buku yang khusus membahas tentang Cina perantauan saja, ada sekitar 900-an buah.

Teras asri di lantai bawah, dengan rimbunnya kebun yang sejuk, menjadi tempat Myra menenggelamkan dirinya ke lembaran-lembaran buku barunya di siang hari. Yang juga membikin tambah nyaman, meski tanpa AC, perpustakaan Myra juga dihiasi guci-guci dari zaman Dinasti Ming dan berapa lukisan termasuk lukisan Jeihan, selain kursi duduk yang enak. Tak heran bila teman-teman dekat Myra, ilmuwan maupun sastrawan, sering bertandang untuk meminjam buku atau bertukarpikiran di perpustakaannya yang artistik itu. Sebagai kelanjutan sikapnya yang cinta buku, Myra bahkan secara rutin bertemu dengan sekelompok teman-temannya untuk saling membagi informasi buku baru yang telah dibaca masing-masing.

Untuk menghasilkan ruang buku yang sehat semacam itu, Myra yang bersuamikan ahli saraf, Prof. Sidharta, ini punya kiat, "Jangan terlalu mudah percaya pada orang lain!" tuturnya tanpa niat bergurau. Myra memang telaten menjauhkan serangga dan rayap, antara lain dengan menaburkan kamper pada setiap rak. "Tikus pun akan selalu menghindar terhadap kamper," jelasnya. Lebih-lebih sebagai kolektor buku lama, Myra musti ekstra hati-hati merawatnya dan membersihkan lebih dulu sebelum dimasukkan rak. Menjemur, mengangin-anginkan, memasukkan ke dalam plastik berisi kamper agar ngengat mati adalah bagian dari perawatan yang dilakukannya, terutama saat baru mendapatkan buku tua. Adakalanya ia juga harus menyeleksi ulang buku-buku yang ada jika timbunan makin tak tertahan. Biasanya novel menjadi sasaran pengurangan.

Yang jelas, seperti halnya Erwien Sutrisno, di antara ribuan buku Myra Sidharta tak ada ensiklopedi. "Saya merasa tak perlu memiliki. Kalau memang membutuhkan data dari ensiklopedi, tinggal datang saja ke perpustakaan umum," jawabnya lugas. Lagipula, bahayanya ensiklopedi adalah harus selalu diperbarui mengingat perkembangan yang begitu pesat. Dan bicara tentang ensiklopedi, Myra jadi ingat ketika tinggal di negeri Belanda dulu. "Banyak orang kaya baru yang memesan buku meteran. Sudah itu warnanya pun disesuaikan dengan warna gorden atau cat tembok!" kata Myra.

Mudah-mudahan itu bukan Anda.

(Rismuji)


home · site map ·write to us · help
 © Digital Library Enterprises, Inc. All rights reserved. copyright · trademark · explicit legal notices · RSACi


search Digital-library.8m.com